Kamis, 13 Maret 2008

Transmisi Alkitab

T R A N S M I S I A L K I T A B

1. Pengertian

Pada dasarnya transmisi bukan istilah Alkitab. Istilah “transmisi” banyak digunakan dalam lingkup alat telekomunikasi khususnya televisi dan radio. Kata “transmisi” sendiri berarti penyebaran. Istilah ini dipakai dalam bidang theologia, untuk menunjukkan penyebaran Alkitab melalui penerjemahan Alkitab. Transmisi Alkitab merupakan rantai penghubung antara wahyu yang diinspirasikan Allah kepada manusia dalam naskah asli Alkitab sampai pada Alkitab dalam berbagai bahasa di dunia. Naskah asli Alkitab tidak kita miliki lagi. Pada hari ini, kita hanya memiliki salinan dari naskah asli itu. Bahkan salinan yang tertua juga bukan salinan langsung dari naskah asli. Dalam salinan-salinan itu, kita mengakui adanya perbedaan antara salinan yang satu dengan salinan yang lain. Maka timbullah dua pertanyaan, yakni: pertama, Bagaimana Alkitab yang kita miliki sekarang, dapat diakui otoritasnya? Alkitab yang kita miliki saat ini, tetap dapat diakui otoritasnya karena Tuhan Yesus mengakui Perjanjian Lama yang juga merupakan salinan; dan gereja mengakui Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru walau keduanya adalah salinan. Ke dua, apakah salinan itu juga diinspirasikan Allah? Inspirasi memang tidak sama dengan transmisi. Inspirasi berkaitan langsung dengan wahyu yang dituliskan (naskah asli) sedangkan transmisi berhubungan dengan penyalinan atau penerjemahan wahyu Allah itu.

2. Sejarah Transmisi dan Penerjemahan Alkitab
Sejarah transmisi Alkitab diawali dari penyalinan naskah asli Alkitab. Hasil salinan naskah asli itu disebut naskah salinan yang paling kuno. Naskah ini terdiri dari P 52 yang disebut juga John Rylands Fragment (117-138 AD); P 45, P 46, dan P 47 yang disebut Chester Beatty Papyri (250 AD); P 66, P 72 dan P 75 yang disebut Bodmer Papyri (P 66 tahun 200 AD; P 72 abad 3; dan P 75 tahun 175-225 AD); Codex Vaticanus tahun 325 - 350 AD; Codex Sinaiticus tahun 340 AD yang sekarang berada di Museum Inggris; dan Codex Alexandrius tahun 450 AD. Di samping naskah salinan yang paling kuno, kita juga memiliki naskah versi kuno yaknI: Naskah Perjanjian Lama Versi Yunani yang terdiri dari Septuaginta (285 BC), Versi Aquila (130-150 AD), Revisi Theodotion (150-185 AD), Revisi Symmachus (185-200 AD), dan Hexapla Origen (240-250 AD); The Samaritan Pentateukh yang hanya merupakan bagian-bagian naskah Perjanjian Lama; Naskah Syria atau Peshito antara abad 2-3 AD; Versi Koptik yang terdiri dari dua yakni Sahidic merupakan dialek Koptik yang dipakai di Mesir bagian selatan, dan Bohairic atau Memphic yang merupakan dialek Koptik yang dipakai di Mesir bagian utara atau di Delta Sungai Nil); The Old Latin sebelum 200 AD; Versi Vulgate yang dikerjakan oleh Jerome pada tahun 382 AD sampai 405 AD). Kemudian lahirlah Alkitab versi Bahasa Inggris yakni: Pertama, Versi John Wycliffe. John Wycliffe menerjemahkan Perjanjian Baru dalam bahasa Inggris tahun 1380. Setelah wafat, teman-temannya menyelesaikannya pada tahun 1388 termasuk Perjanjian Lama. Versi ini didasarkan pada Vulgate. Ke dua, Versi William Tyndale. Ia menerjemahkan Alkitab dalam suasana penganiayaan sehingga ia tidak dapat menerjemahkan Alkitab di tempat tinggalnya, Inggris. Bahkan ia mati sahid sebelum ia menyelesaikan seluruh Perjanjian Lama. Ia menyelesaikan Pentateukh tahun 1530 dan Perjanjian Baru tahun 1525. Tyndale mendasarkan penerjemahannya pada Versi Greek Erasmus. Hasil terjemahan Tyndale dipakai sebagai dasar dari Revisi Authorized Version. Ke tiga, Versi Miles Coverdale. Ia adalah sahabat Tyndale, yang mempersiapkan dan menerbitkan Alkitab pada tahun 1535. Ia mempersembahan hasil karyanya pada Raja Henry VIII. Terjemahan Perjanjian Barunya didasarkan pada terjemahan Tyndale dan versi latin. Ke empat, Versi Thomas Matthew. Versi ini disebut Matthew’s Bible yang menurut para sarjana dianggapk sebagai karya John Rogers. John Rogers adalah teman dekat Tyndale. Karyanya merupakan campuran dari versi Tyndale dan Coverdale. Ke lima, The Great Bible. The Great Bible adalah Alkitab versi Inggris yang penerjemahannya didasarkan pada Matthew Bible’s, Coverdale, dan Tyndale. Ke enam, The Geneva Bible. Versi ini dikerjakan oleh sarjana-sarjana Inggris yang melarikan diri dari Inggris karena penganiayaan Ratu Mary. Alkitab versi ini merupakan revisi dari The Great Bible. Ke tujuh, The Bishop Bible. Versi ini dikerjakan di bawah pimpinan Archbishop dari Canterbury di masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1568). Versi ini banyak dipakai oleh rohaniawan dan merupakan revisi dari The Great Bible. Ke delapan, The Duoay Bible. Versi ini adalah versi Gereja Roma Katolik dari Vulgate. Perjanjian Baru diterbitkan di Rheims tahun 1582, dan Perjanjian Lama di Duoay tahun 1609-1610. Versi ini dipakai oleh Gereja Roma Katolik. Ke sembilan, The King James Version. Versi ini disebut juga Authorized Version (1611). Penerjemahan versi ini dikerjakan oleh 47 sarjana di bawah perintah Raja James I dari Inggris. Dasar utama versi ini adalah Bishop Bible, naskah Ibrani dan Yunani; dan beberapa terjemahan lainnya. Versi ini bukan merupakan revisi tetapi terjemahan baru yang dipakai di negara Inggris dan jajahannya selama 3 abad. Ke sepuluh, The Revised Version. Revised Version dikerjakan oleh sarjana Inggris dan Amerika tahun 1881 dan 1885. Versi ini menggunakan naskah-naskah salinan kuno yang baru ditemukan. Ke sebelas, The American Standard Version. Versi ini didasarkan pada English Revised Version tahun 1900-1901). Ke duabelas, The Revised Standard Version dikerjakan oleh 22 sarjana yang merupakan revisi dari Authorized Version (1946). Ke tigabelas, The New English Bible. General Assumbly of Church Skotlandia mengerjakan suatu versi baru dan dipersembahan pada Ratu Elizabeth II tahun 1961. Ke empatbelas, The New International Version. Alkitab ini merupakan terjemahan baru dalam Bahasa Inggris yang dikerjakan 100 sarjana dari berbagai negara dan denominasi gereja dan dikerjakan selama 10 tahun.

3. Bahasa Alkitab
Dalam menyatakan wahyu khususnya, Allah menggunakan bahasa. Allah memang dapat menggunakan media seperti mimpi, malaikat, suara, para nabi atau penglihatan. Tetapi Allah menggunakan media tulisan karena beberapa alasan, yakni: pertama, Ketepatan. Suatu pemikiran akan lebih tepat dan tidak menjadi kabur ketika pemikiran itu disajikan dalam bahasa lisan ataupun tulisan. Demikian juga Allah, Ia menggunakan bahasa tulisan untuk menyatakan DiriNya agar manusia menjadi jelas dan tidak disalah mengerti. Ke dua, Kemapanan. Wahyu ini bukan diperuntukan manusia pada zaman dan tempat tertentu melainkan untuk seluruh manusia di dunia. Maka Allah menggunakan bahasa tulisan agar wahyu itu tidak mengalami perubahan tetapi memiliki kemapanan. Dengan demikian, Alkitab memang tidak harus berbahasa tertentu. Ia terbuka untuk berbagai bahasa di dunia. Ke tiga, Kekuatan mengingat. Daya ingat manusia memang tidak dapat diandalkan. Ketika manusia menjadi tua, maka daya ingat akan berkurang. Maka Allah menggunakan media tulisan agar manusia dapat selalu mengingat penyataan Allah.
3.1. Bahasa Perjanjian Lama
Sebagian besar, Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani. Perjanjian Lama tidak menyebutnya sebagai bahasa Ibrani tetapi bahasa Yehuda (Yes.36:11), bahasa Yahudi (Neh.13:24) atau bahasa Kanaan (Yes.19:18). Istilah “bahasa ibrani” justru disebutkan oleh Perjanjian Baru (Wah.9:11; 16:16). Bahasa Ibrani termasuk dalam kelompok bahasa Semitik yaitu bahasa yang dipakai oleh orang-orang keturunan Sem. Bahasa ini berkembang dari salah satu dialek dari bahasa asli keturunan Sem. Ketika keturunan Sem mulai berpencar maka bahasa asli keturunan Sem mengalami perubahan dan dialek-dialek itu menjadi bahasa tersendiri. Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan dan perubahan bahasa itu adalah faktor geografis. Maka keturunan Sem dapat dikelompokkan dalam empat kelompok, yakni: Pertama, Bagian Utara. Kelompok bagian utara ini terdiri dari Bahasa Amori dan Bahasa Arami (Syria). Bahasa Arami dipakai dalam Perjanjian Lama misalnya Kejadian 10:22; Daniel 2:4-7:28. Ke dua, Bagian Selatan. Kelompok ini terdiri dari Bahasa Arab dan Bahasa Ethiopia (Kusy) yang tidak dipakai dalam Alkitab. Ke tiga, Bagian Timur. Kelompok ini dikenal dengan Bahasa Akkadian. Bahasa ini merupakan bahasa yang digunakan di Asia Barat Daya pada zaman Kerajaan Babel Kuno dan Asyur. Bahasa ini juga tidak dipakai dalam Alkitab. Ke empat, Bagian Barat Laut. Kelompok ini terbagi dalam empat dialek yakni: Ugarit yang merupakan bahasa orang Kanaan dan tidak dipakai dalam Alkitab; Feniki yang tidak dipakai dalam Perjanjian Lama tetapi Bahasa ini disebut-sebut dalam Perjanjian Lama (Kej.10:8-12; I Raj.5:6; Neh.13:16; Yeh.27:9; dan Zef.1:11); Moab dan Amon yang merupakan bahasa keturunan Lot yang tidak dipakai dalam Alkitab; dan Ibrani. Bahasa Ibrani adalah dialek dari kelompok ke empat yang masih hidup sampai saat ini. Bahasa Ibrani yang tertua adalah Bahasa Ibrani Perjanjian Lama. Sedangkan sejak abad 18, Bahasa Ibrani Modern mulai digunakan.
Bahasa Ibrani adalah bahasa yang tepat untuk menceritakan sejarah umat Allah dan perbuatan-perbuatan Allah di antara umatNya. Hal ini disebabkan oleh beberapa sebab, yakni: pertama, Bahasa Ibrani merupakan bahasa ilustrasi atau bahasa grafik yang berkata-kata dengan hidup, kaya dengan kiasan dan menantang serta mendramatisasikan kisah-kisahnya. Dalam Perjanjian Lama, kita banyak menjumpai hikayat dan kisah, maka bahasa Ibrani sangat tepat untuk memaparkannya. Ke dua, Bahasa Ibrani merupakan bahasa pribadi. Bahasa ini lebih ditujukan kepada hati dan emosi manusia daripada akal dan rasio manusia.
3.2. Bahasa Perjanjian Baru
Perjanjian Baru dinyatakan Allah untuk seluruh bangsa seperti ungkapan Simeon ketiba berjumpa dengan Yesus (Luk.2:30-32). Perjanjian Baru memakai bahasa Yunani yang merupakan bahasa populer dan dikenal banyak bangsa pada zaman itu. Ada beberapa fase perkembangan bahasa Yunani, yakni: Homeric merupakan bahasa Yunani Kuno; Attic merupakan bahasa Yunani yang dipakai oleh Penduduk Pedalaman Yunani terutama daerah Attica yang dekat dengan Atena; Koine disebut juga Koine Dialektos atau Hellenistic Greek atau Yunani Umum yang dipakai dibanyak wilayah; Byzantine merupakan bahasa Yunani yang dikap[ai pada zaman Kerajaan Byzantine; dan Bahasa Yunani Modern yang dipakai oleh Orang Yunani zaman ini. Bahasa Yunani Perjanjian Baru adalah Bahasa Yunani Umum (Koine). Allah menggunakan Bahasa Yunani Umum karena beberapa alasan, yakni: pertama, Bahasa Yunani Umum adalah bahasa pendidikan dan kebudayaan. Bahasa ini merupakan bahasa pikiran. Hal ini sesuai dengan Perjanjian Baru yang banyak menyatakan pemikiran dan konsep. Ke dua, Bahasa Yunani Umum lebih dapat menyatakan kebenaran Allah melalui bentuk komunikasi yang lebih sederhana. Ke tiga, Bahasa Yunani Umum memiliki ketepatan teknis dalam menggunakan istilah. Ke empat, Bahasa Yunani Umum merupakan bahasa universal yang memudahkan banyak bangsa pada zaman itu untuk memahami kebenaran Allah serta memudahkan pewartaan Injil.

4. Penyalinan Naskah Alkitab
4.1. Penyalinan Perjanjian Lama
Kita tidak dapat mengetahui dengan pasti permulaan penyalinan naskah Perjanjian Lama. Hanya menurut tradisi, pada zaman Samuel dimulai pembuatan salinan-salinan naskah. Namun tradisi itu dapat dipercaya karena zaman Samuel telah berdiri sekolah-sekolah nabi yang pasti membutuhkan salinan-salinan naskah Perjanjian Lama. Penyalinan itu sendiri terbagi dalam dua kelompok, yakni:
4.1.1. The Synagogue Rolls
Salinan ini khusus dipakai di rumah-rumah sembayang dan dianggap salinan suci yang terdiri dari Pentatukh, Kitab Nabi dan Tulisan. Dalam menyalin salinan ini, orang yahudi memiliki peraturan yang ketat. Samuel Davidson dalam bukunya “The Hebrew Text of The Old Testament, mencatat peraturan yang ditetapkan orang yahudi dalam menyalin salinan ini. 1) Kulit binatang yang dipakai harus tanpa cacat. 2) Kulit tersebut disambung satu dengan lainnya dengan benang dari binatang halal. 3) Setiap kulit harus terdiri dari sejumlah kolom tertentu. 4) Tiap panjang kolom tidak boleh kurang dari 48 baris dan tidak boleh lebih dari 60 baris. 5) Tinta yang dipakai harus hitam dan dibut menurut resep khusus. 6) Contoh naskah yang disalin harus memenuhi standar sebagai contoh, model atau pola yang patut ditiru. 7) Penyalin harus menyalin tanpa menyimpang. 8) Tidak boleh sebuah kata atau huruf bahkan satu iota ditulis berdasarkan ingatan tanpa melihat contoh di hadapannya. 9) Antara tiap konsonan diberi spasi selebar rambut atau benang. 10) Antara tiap paragraf diberi spasi 9 konsonan. 11) Antara tiap kitab diberi spasi 3 baris. 12) Huruf terakhir dari Kitab ke lima Musa harus berakhir tepat pada ujung baris. 13) Waktu menyalin naskah, penyalin harus memakai pakaian tradisional yahudi. 14) Penyalin harus membasuh diri sebelum menyalin. 15) Waktu menulis Nama Allah, tidak boleh memakai pena yang baru dicelup tinta. 16) Waktu ia menulis Nama Allah, meski raja memanggil, tak perlu ia memperdulikan.
Selain peraturan tersebut, untuk menjaga agar tidak terjadi kesalahan pada salinan, orang yahudi memiliki sistim pengujian yakni dengan menghitung jumlah huruf tertentu yang terdapat dalam kitab Perjanjian lama; dan mereka menunjukkan huruf-huruf yang harus ada tepat di tengah-tengah tiap baris salinan dari tiap Kitab. Di samping itu, dalam penyalinan apabila terdapat kesalahan tulis kata, huruf dan iota serta tanda baca, maka seluruh naskah itu harus dimusnahkan dengan jalan dibakar.
4.1.2. The Private Copies
Salinan ini adalah salinan pribadi yang dipergunakan untuk kepentingan pribadi. Salinan ini sering disebut salinan umum. Salinan ini tidak memiliki aturan ketat dalam penyalinannya. Tetapi salinan ini tetap dibuat dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Salinan ini sering diberi catatan atau tafsiran. Salinan ini juga tidak diwajibkan menggunakan tinta jenis dan warna tertentu. Ia juga tidak diwajibkan menggunakan kulit binatang dengan ukuran tertentu.
4.1.3. Naskah Perjanjian Lama
Setelah zaman Talmudic (300 BC - 500 AD), mulailah zaman masoretic (500 - 1000 AD). Kata “masoretic” berasal dari kata Ibrani “masorah” yang berarti tradisi. Penyalinan naskah Alkitab di zaman ini dilakukan dengan menyelidiki dan mengedit naskah-naskah Perjanjian Lama dengan memegang dari sudut pandang tradisi yang berotoritas. Hasil pekerjaan ini adalah sebuah naskah yang disebut Naskah Masoretes. Naskah Masoretes yang terpagi, berasal dari salinan tahun 916 AD. Naskah ini dsiebut Kodex nabi-nabi dari Leningrad yang berisi Kitab-kitab nabi akhir.
Sampai hari ini, kita memiliki beberapa naskah Perjanjian Lama, yaitu: Pertama, Kodex Perjanjian Lama dari Leningrad. Kodex ini adalah naskah salinan dari tahun 1008 AD. Sebagian naskah ini adalah koleksi Firkowitsch yang dibawa dari Crimea ke Royal Library di Leningrad. Naskah ini disalin dari kodex yang disiapkan oleh Rabi Aaron ben Moses ben Asher sebelum tahun 1000 AD. Naskah ini ditulis pada Vellum dan sudah memakai huruf hidup dan logat. Ke dua, The Aleppo Codex. Naskah ini berasal dari tahun 930 AD. Ia diselamatkan dari sebuah rumah sembayang yang terbakar di Aleppo pada tahun 1948. Kemudian menghilang dan diperkirakan musnah terbakar. Tetapi pada tahun 1958, Israel mengumumkan bahwa naskah tersebut telah selamat berada di Israel. Kodex ini sudah diperbaiki dari salinan sebelumnya dan telah diberi titik oleh Aaron ben Asher. Ke tiga, The British Museum Codex. Kodex berasal dari tahun 950 AD dan hanya berisi Kejadian 39:20 sampai Ulangan 1:33. Ke empat, Kairo Codex. Kodex ini berasal dari tahun 895 AD yang berisi kitab nabi permulaan (Yosua, Hakim-hakim, Samuel dan Raja-raja) dan kitab nabi akhir (Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan 12 nabi kecil). Ke lima, Cairo Geniza Fragments. Naskah-naskah ini berasal dari abad 6-9 AD yang ditemukan pada tahun 1890 ketika terjadi pembangunan kembali sebuah rumah sembayang di Cairo, Mesir. Naskah ini tersebut di beberapa musuem seperti Bristish Musuem, Oxford, dan Cambridge. Ke lima, Qumran Text. Teks Qumran ditemukan pada tahun 1947 oleh seorang anak gembala di salah satu gua yang banyak terdapat di tebing sebelah barat Laut Mati. Pada tahun 1949, berita penemuaan itu menyebar sehingga dilakukan pencarian lebih lanjut di gua-gua tersebut. Dalam Teks Qumran terdapat naskah kitab Yesaya lengkap. Setelah diselidiki, teks Qumran menunjukkan tiga macam naskah, yakni naskah konsonan yang menjadi dasar bagi pekerjaan editorial masoretes; naskah-naskah yang menjadi contoh untuk menerjemahkan Septuaginta pada abad 3 BC; dan Naskah-naskah yang berhubungan erat dengan Samaritan Pentateukh.
Naskah Perjanjian Lama memang tidak banyak dimiliki. Hal ini disebabkan oleh beberapa sebab, yakni: pertama, Jangka waktu 2000 sampai 3000 tahun adalah jangka waktu yang panjang. Maka kerusakan pada naskah memang tidak dapat dihindarkan. ke dua, Sejak jaman Musa dan jaman Perjanjian Lama, tulisan ditulis pada kulit binatang. Hal ini menjadi kelemahan karena kulit binatang tidak memiliki ketahan yang baik dibandingkan dengan lempengan tanah liat. Ke tiga, Orang Yahudi selama berabad-abad berada di bawah aniaya dan penjajahan. Hal ini yang menjadi faktor naskah-naskah itu tidak terlalu banyak karena penjajahan dapat menjadi faktor pemusnah. Ke empat, Peraturan menyalin naskah suci. Menurut tradisi Talmud, suatu naskah yang mengandung kesalahan karena salah salin dan naskah tua yang tidak dapat dipakai, harus dimusnahkan. Ke lima, pada abad 5-6 ketika para masoretes selesai memberi huruf hidup, maka naskah-naskah yang tua dimusnahkan agar tidak jatuh ke tangan orang kafir.
4.2. Penyalinan Perjanjian Baru
4.2.1. Sejarah.
Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dengan tinta di atas Papyrus. Hal ini diungkapkan dalam II Yohanes 2. Tulisan yang lebih panjang ditulis pada papyrus rolls. Semua naskah Perjanjian Baru yang asli memang tidak kita miliki lagi. Hal ini disebabkan oleh keberadaan papyrus yang tidak dapat tahan lama. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa naskah-naskah itu sudah disalin sebelum semuanya hilang (II Pet.3:15-16; Kol4:16). Sejak akhir abad 1 AD, proses menyalin terus berlangsung. Pada awal abad 2 AD, salinan mulai dibuat dalam bentuk buku tetapi tetap menggunakan bahan papyrus. Ketika zaman Kaisar Nero, penganiayaan terhadap orang Kristen menyebakan banyak salinan yang tidak sistimatis. Dari tahun 303 AD, Kaisar Diocletian meneror orang Kristen sampai abad ke 4 AD yang menyebabkan banyak salinan dibakar. Ketika Konstatine menggantikannya dan mengumumkan Edict of Milan tahun 313 AD, maka gereja menikmati kebebasan sehingga pada periode ini terdapat banyak salinan. Eusebius diperintahkan untuk mempersiapkan 50 salinan Alkitab. Hal ini terus berkembang sampai abad 15 AD ketika Alkitab pertama kali dicetak dengan mesin.
4.2.2. Naskah Perjanjian Baru
4.2.2.1. Naskah Papyrus
Naskah Papyrus terdapat tiga macam, yaitu: pertama, P52 John Rylands Fragment (117-138 AD). Sobekan naskah papyrus ini dianggap yang paling tua yang berisi 5 ayat dari Injil Yohanes. Naskah ini milik John Rylands Library di Manchester, Inggris. Ke dua, P45, 46, 47 Chester Beatty Papyri (250 AD). Naskah berada di Museum Beatty dekat Dublin. Naskah ini terdiri dari 3 kitab dan yang berisi hampir semua kitab Perjanjian Baru, yakni: Pertama, P 45 yang terdiri dari 30 lembar papyrus yang berisi Injil Yohanes 2 lembar; Injil Matius 2 lembar; Injil Markus 6 lembar; Injil Lukas 7 lembar; dan Kisah Para Rasul 13 lembar. Ke dua P46 yang terdiri dari 86 lembar. Papyrus ini sebenarnya berisi 104 lembar. Ia berisi Surat Paulus seperti Roma, Ibrani, 1 dan 2 Korintus, Efesus, Galatia, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika. Dalam naskah ini surat Roma dan 1 dan 2 Tesalonika tidak lengkap. Ke tiga; P47 yang terdiri dari 10 lembar papyrus. Isi sebenarnya adalah 32 lembar. Papyrus ini berisi bagian tengah dari Kitab Wahyu 9:10-17:2. Ke tiga, P66, 72, 75 Bodmer Papyri. Ini naskah terpenting di antara naskah papyrus yang lain. Naskah ini berada di Library of World Literature di Culagny dekat Geneva. Naskah ini terdiri dari tiga bagian, yakni: pertama, P66 yang berasal dari tahun 200 AD. P66 terdiri dari 104 lembar yang berisi Injil Yohanes 1:1-6, 11; 6:35b-14:15 dan 40 lembar sobekan dari halaman yang lain yang berisi Injil Yohanes 14-21. Ke dua, P72 dari abad 3 AD. P72 merupakan salinan Kitab Yudas, 1 dan 2 Petrus dan beberapa kitab aprokripa Perjanjian Baru. Ke tiga, P75 antara tahun 175-225 AD. P72 terdiri dari 102 halaman dari 144 halaman. Ia berisi Injil Lukas dan Injil Yohanes.
4.2.2.2. Naskah Vellum dan Perkamen
Pada naskah Vellum dan Perkamen terdapat 5 kodex, yakni: pertama, Kodex Vaticatus (325-350 AD). Naskah ini diperkirakan naskah yang tertua yang ditulis pada vellum. Naskah ini merupakan naskah Perjanjian Lama versi Septuginta dan Perjanjian Baru secara lengkap dengan beberapa kita apokripa Perjanjian Lama kecuali Kitab 1 dan 2 Makabe dan Doa Manasses. Bagin Perjanjian Lama yang tidak terdapat dalam naskah ini ialah Kitab Kejadian 1:1-46:28; II Raja-raja 2:5-7, 10-13; dan Mazmur 106:27-138:6. Sedangkan bagian Perjanjian Baru yang tidak ada dalam naskah ini ialah Ibrani 9:14 sampai akhir; Markus 16:9-20; dan Yohanes 7:53-8:11. Maskah ini ditulis dengan huruf besar yang terdiri dari 759 lembar. Kodex ini disimpan di Perpustakaan Vatican, Kota Vatican, Italia. Ke dua, Kodex Sinaiticus (340 AD). Naskah ini dianggap penting karena termasuk naskah tua. Naskah ini ditemukan di sebuah Biara di kaki Gunung Sinai yakni Biara St. Catherine oleh seorang bangsawan Jerman yang bernama Tischendorf. Ketika ia berkunjung ke biara itu pada tahun 1844. Ia menemukan 43 lembar naskah kuno yang merupakan bagian Perjanjian Lama versi Septuaginta yang berisi I Tawarikh, Yeremia, Nehemia dan Ester. Ia membawa naskah ini ke Perpustakaan di Leipsig, Jerman. Naskah ini dikenal dengan sebutan Codex Frederico-Augustanus. Pada tahun 1853, ia mengunjungi biara itu lagi tetapi tidak menemukan apapun. Pada kunjungannya tahun 1859, ia berhasil mendapatkan 347 lembar. Naskah-naskah ini kemudian disebut dengan sebutan Kodex Sinaiticus yang berisi lebih dari separo Perjanjian Lama dan semua Kitab Perjanjian Baru kecuali Markus 16:9-20 dan Injil Yohanes 7:53-8:11. Pada tahun 1975 ditemukan 110 naskah kuno di sebuah ruangan di antaranya terdapat 13 lembar naskah dan 15 naskah kodex Sinaiticus dan tulisan lain dari tahun 650-850 AD. Ke tiga, Kodex Alexandrinus (450 AD). Pada tahun 1078, Kodex ini dipersembahkan kepada Patrianch of Alexandria. Pada tahun 1621, naskah ini dibawa oleh Cyril Lucar ke Konstantinopel. Lucar memberikan naskah ini pada Sir Thomas Roe, Duta besar Inggris di Turki pada tahun 1624 untuk dipersembahkan kepada Raja James I. Naskah ini tidak pernah sampai ke tangan Raja James I karena raja ini meninggal sebelum naskah ini sampai ke tangannya. Maka Raja Charles I mewarisi naskah ini pada tahun 1627 sehingga terlambat untuk dipakai sebagai bahan pembuatan Alkitab versi King James. Pada tahun 1757, Raja George I mempersembahkannya kepada National Library of The British Museum. Naskah ini terdiri dari seluruh Perjanjian Lama kecuali Kejadian 14:14-17; 15:1-5, 16-19; 16:6-9; I Samuel 12:18-14:9; Mazmur 49:19-79:10; dan seluruh Perjanjian Baru kecuali Matius 1:1-25:6; Yohanes 6:50-8:52 dan II Korintus 4:13-12:6. Ke empat, Kodex Ephraemi Rescriptus (345 AD). Pada tahun 1500, kodex ini dibawa John Lascaris ke Italia dan dibeli oleh Pietro Stozzi. Pada tahun 1533, naskah ini menjadi milik Catherine de Medici, ibu dari Raja Perancis. Sekarang naskah itu berada di Perpustakaan Nasional di Paris. Sebagian besar Perjanjian Lama telah hilang dan Perjanjian Baru kurang II Tesalonika, II Yohanes dan beberapa bagian dari Kitab Perjanjian Baru lainnya. Naskah ini merupakan suatu palimpsest rescritus (hapusan yang ditulis lagi). Pada mulanya berisi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tetapi sudah tua dan luntur, dihapus oleh Ephraem dan ditulis naskah kotbahnya. Tetapi Tischendorf berhasil membuat tulisan yang terhapus itu menjadi dapat dibaca dengan reaksi kimia. Kodex ini terdiri dari 209 lembar yang terdiri dari 64 Perjanjian Lama dan 145 Perjanjian Baru. Ke lima, Kodex Bezae (450 atau 550 AD). Naskah bahasa Yunani dan Latin yang tertua dari Perjanjian Baru adalah Kodex Bezae. Pada tahun 1562 ditemukan oleh Theodore de Beze (Beza), seorang Theolog Perancis. Pada tahun 1581, Beza memberikan naskah ini kepada Universitas Cambridge. Naskah ini berisi 4 Injil, Kisah Para Rasul dan III Yohanes 11-15.

Tidak ada komentar: